Rabu, 11 Januari 2012

PURA ULUN DANU BATUR SONGAN KINTAMANI

PURA ULUN DANU BATUR SONGAN KINTAMANI


Pura Ulun Danu Batur di Songan,
Sumber Kehidupan Bali
''MANGKE nemuaken apan manira ngamertaning wong Bali kabeh, tan paran mapinunas mertha ring parhyangan nira ring Hulun Danu, ngawe gemuh ikang rat''. Itulah tertuang dalam kitab purana Pura Ulun Danu Batur di Songan.
Berdasarkan prakempa pura itu membuat krama Bali berbondong-bondong melakukan yadnya di pura yang berlokasi di bibir timur Danau Batur tersebut. Selain pengempon pura (warga Songan), krama Bali termasuk sejumlah pejabat (bupati) sudah ngayah di Pura Kahyangan Jagat itu sebelum upacara Bhatara Turun Kabeh pada 19 September lalu. Ketua Panitia Pemugaran, I Kadek Ardi Negara, yang didampingi Dane Jro Gede Hulun Danu, mengatakan Ida Batara akan mesineb pada 29 September, tepatnya pada tengah malam. Pujawali dilaksakan setiap purnamaning Sasih Kapat.
Dalam kitab purana, dijelaskan keturunan yang menjadi punggawa di wilayah Bali seperti Klungkung, Karangasem, Gianyar, Payangan, Tampaksiring, Badung, Mengwi, Tabanan, Bangli, Buleleng, wajib menghaturkan Panca Wali Krama pada sasih dan purnama kapat. Berdasarkan kajian purana itu pula, semua kabupaten di Bali melakukan upacara bhakti penganyar.
Sesuai dengan piteket yang tertuang dalam prasasti dan purana, jika mereka melaksanakan kewajibannya maka kerahayuan, kesejahteraan masyarakat luas, para subak, akan tercapai.  Hal itu juga yang disampaikan Bhatara Gnijaya, di mana disebutkan bahwa Batara yang berstana di Pura Ulun Danu Batur merupakan sumber dari segala sumber kehidupan di Bali.
Menyimak dari dekat Pura Tri Kahyangan Jagat yang berada di hulunnya Danau Batur itu, dalam wewidangan (struktur) pura di sana terbagi dalam tiga halaman yang melambangkan sebagai tri mandala atau triloka yakni jeroan (swah loka), jaba tengah (bwuah loka) dan jabaan (bhur loka). Guna memberikan ruang bagi masyarakat, dan berstananya dewa dan Dewi Danuh (Betari Ulun Danu) dibangun padmasana, meru tumpang sebelas, tumpang sembilan, tumpang tujuh, meru tumpang lima dan tumpang tiga.
Selain meru yang berjejer di dereten utama mandala, di dalam pura juga terdapat bangunan suci berupa pesamuan agung, bangunan mondar- mandir, pepelik, gedong parucui, paruman agung, gedong linggih tribhuana, serta pamuspaan Dalem Ketut Kresna Kepakisan. Palinggih-palinggih ini juga tertuang dalam petuah yang disampaikan Mpu Kuturan untuk menghormati bhaktinya ke Hyang Dewi Danuh.
Di sebelah selatan atau ulun Danu Batur di Songan juga terdapat pura Segara (petirtaan). Untuk memohon keselamatan. Sejak 19 September Umat Hindu yang tersebar di seluruh Bali bahkan sampai ada yang dari Lombok dan Jawa tanggil ke pura tersebut. Banyak petani (kelompok subak) membawa hasil panennya sebagai persembahan atas perairan yang selama ini dianugrahkan oleh Bhatara yang bersthana di Pura Ulun Danu Batur.

''Karena akulah memberikan kerahayuan untuk orang Bali, dengan memohon kerahayuan di bibir timur Danau Batur, dengan demikian akan menemukan kerahayuan, dan kesejahteraan masyarakat serta bumi Bali,'' sebut salah satu Prakempa Pura Ulun Danu Batur di Songan. (kmb) [Bali Post - Minggu, 26 September 2010].
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar